Dream, War & Tears

10 May

onsehoot,fanfiction,yoonyul

Author Name : Isna Melin Christina

Title          : Dream, War & Tears

Cast         : – Kwon Yuri


– Im yoona

– Leeteuk

Genre         : Sad, family and other

Rating          : Teen

Author note     : hai kaliannn semuaaaah!!! Reader yg Christy cintai sepenuh hati/? Maap kan aku yg tdak pernah hadir skian lama. Dan blom smpat melanjutkan ff Im sorry nya. Jadi sebagai gantinya kali ini aku pnya ff oneshoot. Semoga suka ya.. dan jangan lupa untuk komennya.. di butuhin banget sebagai penyemangat hati ini/? yg terkadang malas untuk membuat ff mhuehehehee

Happy reading…

 *****

Yuri duduk di ruang belajar di dalam rumahnya. Tangannya sibuk mebolak-balik halaman dari buku Matematika nya. “Soal matematika selalu membuatku frustasi” ucap yuri beberapa saat kemudian lalu mengacak-acak rambut. Pipinya dia kembungkan dan matanya tertuju pada buku tugas matematikanya yg belum terisi sama sekali. Akhirnya dia menutup semua bukunya lalu naik ke lantai atas menuju kamar. Dia melihat Yoona sedang disana berbaring sambil memegang sebuah buku ilmiah sambil mendegarkan musik melalui headset putihnya.

Yuri berjalan dengan wajah frustasi lalu duduk di samping tempat tidur. Dia menarik sebelah headset Yoona.

“Yoona.. aku tidak bisa mengerjakan tugas matematika ku”

“Hmm” respon Yoona masih sambil membaca buku. Dia sudah tau apa yg diinginkan saudara kembarnya itu. Tapi tentu saja jawabannya adalah tidak.

“Kau sudah mengerjakan semuanya??”

“Hmm” respon Yoona lagi.

“Boleh alu pinjam?”

“Tidak” jawab Yoona singkat yg membuat yuri langsung cemberut. Memang kejadian yg langka kalau Yoona mau meminjamkan tugasnya pada yuri.

“Ah jeballl..” yuri memasang wajah memohonnya sambil menarik ujung baju Yoona

“Tidak”

“Kalau begitu ajarkan aku..” yuri mengubah permintaannya. Yoona menutup bukunya lalu menoleh pada kembarannya itu.

“Yuri.. aku sedang tidak mempunyai kesabaran yg cukup tinggi untuk mengajarmu. Kau mau aku meledak jika kau tidak juga mengerti nanti?”

Yuri mengingat kejadian seminggu lalu saat Yoona meledak di ruang belajar karena mengajarinya yg tidak bisa mengerti. Yuri langsung menggelengkan kepalanya cepat.

“Bagus. Kalau begitu pergi ke ruang belajar lagi dan berusahalah mengerjalan sendiri”

Yuri berpikir cepat. Bagaimana supaya bisa menyogok saudaranya ini. Lalu dia tersenyum. Yuri memang tidak terlalu pintar dalam belajar tetapi dia sangat pintar dalam uruaan menabung. Sedangkan Yoona tidak bisa menabung karena dia selalu menghabiskan uangnya untuk membli buku2 ilmiah dan rumus2 yg membosankan.

“Oke bagaimana kalau kita bersepakat. Aku akan membelikan mu topi putih dengan tulisan “Girls” yg kau inginkan kemarin.”

Yoona yg tadinya sedang larut dalam buku langsung memalingkan wajahny pada yuri

“Apa kau menyogokku?” Tanyanya. Yuri hanya diam sambil mengangkat bahunya. Takut Yoona menolak kesepakatannya.

“Kalau begitu kau berhasil” Yoona tersenyum lalu berdiri dan mengambil tasnya. Dia memberikan buku tugas Matematika nya pada yuri. Yuri tersenyim lebar lalu mengambilnya dengan senang hati dan turun lagi ke ruang belajar. Hanya perlu 10menit untuk yuri menyalin tugas kembarannya itu.

 

*****

Aku berjalan bersama yoona menuju sekolah. Sepi. Di sepanjang perjalanan kami berdua hanya diam, dia sibuk membaca buku sambil berjalan, sedangkan aku sibuk mendengarkan music dengan volume super keras dari headset ku. Yoona memakai topi barunya. Sebenarnya jika di lihat-lihat, tidak ada yg istimewa dari topi itu. Itu hanya topi putih biasa dengan tulisan ‘Girls’ warna hitam dan di penuhi glitter. Tapi entah kenapa harganya bahkan menghabiskan uang jajan yg sudah ku tabung selama 2 bulan terakhir ini.

“aku masih tidak habis pikir kenapa topi seperti itu bisa begitu mahal” ucap ku lalu melepas sebelah headset yang sedang ku pakai.

Yoona menoleh ke arahku “ tentu saja ini mahal, lihat dari mereknya yuri. Ini merek ternama” yoona memandangku seolah aku orang paling bodoh sedunia. Memang ku akui aku tidak pandai dalam belajar dan juga dalam urusan barang-barang bermerek. Menurut ku, untuk apa beli barang bermerek yang sangat mahal hanya karena dasainer nya saja. Sedangkan masih ada yang lebih murah dengan kualitas yang tidak kalah bagus.

“kau tidak akan tau bagaimana rasanya jika memakai barang barang bermerek yuri” ucap yoona lagi. Setelah itu aku lebih memilih diam dan menyumpalkan headset ke telingaku lagi. Aku memang selalu kalah dibandingkan dengan Yoona. Beberapa menit kemudian akhirnya kami tiba di depan sekolah kami, aku be, aku berjalan di samping yoona menuju kelas ku. dia mengambil kursi paling depan, sedangkan aku tentu saja lebih memilih kursi paling belakang.

 

 

”Yuri.. kau ingin makan apa nanti malam?” Tanya yoona padaku, ketika bell pulang sekolah berbunyi. Aku tidak langsung menjawab, aku menepuk-nepuk celana ku, membersihkannya dari serpihan-serpihan roti yang baru saja kumakan selama pelajaran terakhir tadi.

“ada apa? kau ingin masak? Tumben sekali” aku merapikan buku-buku ku, memasukkannya ke dalam tas lalu berjalan beriringan dengan yoona keluar kelas.

“iya, entah kenapa aku ingin memasak malam ini”

“kau tau makanan kesukaan ku. aku ingin itu”

“sushi? Arrasseo akan kubuatkan untukmu” yoona tersenyum, membuat ku merasa sedikit aneh dengan sikapnya. “apa kau tadi mendapat nilai tambahan dari guru?” yoona menggeleng sebagai jawaban. “atau kau mendapatkan buku pengetahuan baru secara Cuma-Cuma?” Tanya ku lagi.

“tidak yuri. Jangan bertanya lagi karena aku tidak punya alasan kenapa aku ingin sekali berbuat baik padamu hari ini” jawab yoona.

Yuri mengangkat bahunya lalu tersenyum lebar” kalau begitu terimakasih. Ini pertama kalinya kau mau memasak untuk ku setelah sekian lama”

“excuse me. Which yuri?” Tanya seorang gadis yg menghampiri kami dengan menggunakan bahasa inggris, dia punya kulit putih, hidung mancung, wajah tanpa cela dan rambut coklat yg cantik. Mata birunya memandang aku dan yoona bergantian.

“Iam Yuri. why?” Tanya ku.

”can you come with me for a minute. Please..” dia memandangku dengan tampang memohon. Aku tidak mengenalnya sama sekali, kenapa tiba-tiba dia datang dan mengajakku untuk ikut dengannya. Tentu saja aku menolak. Tapi yoona berkata dalam bahasa korea “sepertinya dia tidak berniat jahat, ikuti saja dia. Aku akan menunggumu dirumah. Bye” lalu dia berjalan pergi meninggalkan ku. pandanganku kembali lagi pada gadis tadi yg masih memandangiku dia tersenyum lalu menggandengku pergi.

 

 

Aku menyiapkan bahan-bahan dan mulai memasak makan malam. Meja makan ku tata sedemikian rupa sehingga tampak rapi dan cantik, entah kenapa aku ingin melakukan ini.

Setelah semua selesai, aku duduk di kursi di depanku ada meja makan bundar yg sudah penuh oleh berbagai makanan. Kudengar yuri membuka kenop pintu lalu berjaln menuju dapur sambil mengomel, aku tersenyum aku sudah tau akan seperti ini. yuri berjalan menuju kulas meneguk jus langsung dari botolnya tanpa menaruhnya ke dalam gelas dulu lalu duduk di seberangku.

“ya! Kau yang menyuruhnya menahan ku eoh?” yuri berteriak kesal kearah ku, dia memonyongkan bibirnya. Aku tertawa kencang, entah kenapa aku senang sekali melihat ekspresinya itu, terlihat lucu.

“mianhae.. hanya saja aku tidak mau kau mengangguku” ucapku di sela-sela tawa ku, ekspresi yuri masih belum berubah , masih ekpresi kesal yg ku dapat di sana.

“yoona.. seharusnya kau tidak prlu menyuruh gadis itu menahan ku. aku tidak akan menganggumu kok, kalau kau sedang memasak..”

“sayangnya aku tidak percaya denganmu.. kau itu sangat cerewet yuri, mana mungkin kau tahan untuk diam berlama-lama.. “ aku mengambil sumpit dan menyomot sebuah sushi dengan sumpitku. “ini makan” aku menyuapkan sushi nya ke depan bibir yuri. Dia memandangi ku bingung, tapi akhirnya membuka mulutnya dan mulai mengunyah.

“ada apa dengan mu?” yuri mengambil sumpit yang aku pergang lalu mulai menyuapi dirinya sendiri. Aku tidak langsung menjawab, aku memperhatikan mulutnya yg penuh dengan makanan. “ya! Tunjukkan kalau kau itu seorang gadis kwon yuri!” aku berteriak padanya. dia menatapku heran tetapi beberapa detik kemudian dia malah memasukkan lebih banyak makanan ke dalam mulutnya.

******

Yoona dan yuri berbaring di halaman rumah mereka yang hijau , sekarang baru jam 8 malam. sehabis makan malam tadi mereka berdua keluar dan mengobrol di sana.

“yoona-ya..”

Hmm.. respon yoona. Saat ini dia sedang membaca salah satu bukunya. sedangkan yuri sedang memainkan ponselnya.

“aku akhir-akhir ini selalu bermimpi, dan selalu mimpi yang sama yang di ulang setiap malam” yuri menerawang pada langit malam yang terbentang luas di atasnya.

“mimpi apa?” yoona mengerutkan keningnya, buku yang sedari tadi dia baca dia letakkan tepat di samping tubuhnya yg sedang berbaring saat ini.

”entahlah…sangat aneh… mimpi itu selalu di awali dengan perjalanan di sebuah hutan. Kau membawa seekor kucing bersamamu. Kita berjalan bersama untuk mencari jalan keluar. Tapi ketika kita pikir kita sudah berjalan keluar hutan itu, sebaliknya kita malah masuk semakin dalam dan suasana menjadi semakin gelap.

Kucing yg kau bawa berubah semakin besar dan menyeramkan, menjadi seekor singa. Singa itu berlari mengejar kita, kau berlari meninggalkan ku, aku juga berlari, aku ingin mengejarmu tapi kau malah lari semakin jauh, aku tak tau arah dan singa itu mengejarku..Lalu setelah bagian itu , aku akan bangun dengan kehausan dan keringat yang membanjiri tubuhku” yuri menceritakan panjang lebar. Yoona terdiam beberapa saat , mencerna semua yang di ceritakan yuri

“itu hanya mimpi” respon yoona beberapa saat kemudian, lalu duduk.

“tapi aku sudah sering kali bermpimpi seperti itu, bukan kah itu aneh?” yuri ikut duduk. “kau meninggalkan ku yoona. Dan singa itu sepertinya mengincarku”

“sudahlah.. jangan di pikirkan, sekarang lebih baik kita masuk ke dalam rumah” yoona mengambil bukunya lalu berdiri, dia menepuk-nepuk bekas rumput yang adaa di celana nya lalu mengulurkan tangan membantu yuri berdiri, yuri menerima uluran tangan itu. Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah bersama.

Begitu baru masuk ke dalam rumah, ponsel yoona bergetar dia mendapatkan 1 pesan masuk, dan raut wajahnya langsung berubah takut ketika melihat siapa yang mengirimnya.

“Café.11.am.tomorrow”

******

“halo yoona, apa kabar eoh?” seorang pria kira-kira berumur 30an datang menghampiri yoona lalu duduk di kursi di seberangnya sambil menyunggingkan senyum yang terlihat seperti malaikat. Yoona tidak menjawab. Dia hanya menatap pria itu dengan tampang datar.

“apa yang kau ingin kan?” Tanya yoona, masih sambil memandangi wajah pria itu lekat-lekat. Pria itu tertawa.
“pertanyaan mu salah. Lebih tepatnya, apa yang boss ku inginkan” leeteuk balik menatap yoona , melihat dengan detail eskpresi yoona yang sangat datar, tetapi ada sedikit rasa takut disana. Pria itu melihat pada cappuccino yang belum diminum sama sekali oleh yoona. Dia mengambil cappuccino itu lalu meminumnya. Dia mengharapkan yoona marah, atau setidaknya berteriak padanya, tapi yoona masih diam saja.

“oke, tidak banyak yang ingin aku sampaikan.. jadi..”

“sebutkan saja intinya leeteuk-ssi.. maka aku bisa cepat pergi dari sini” ucap yoona yang membuat leeteuk tersenyum lagi.

“bos ku menginginkan salah satu dari kalian”

“kalau begitu, suruh bos mu mengambil aku dan setelah itu selesai” yoona bersiap-siap untuk pergi.

“tentu saja tidak segampang itu yoona.. bukan kau yg menentukan, tapi bos ku yang menentukan siapa yang akan dia pilih. Saran ku berhati-hatilah. Bisa saja kau yang di pilih, atau mungkin saudara kembar mu.. yuri..”

“jangan sentuh yuri!” yoona mengeraskan suaranya dan memberi penekanan pada setiap kata.

“bukan aku yang menentukan. Jika boss ku menginginkan, dia bisa membunuh kalian berdua hanya dengan sebuah kalimat singkat” leeteuk berhenti beberapa saat dia meneguk cappuccinonya yang belum habis lalu melanjutkan.

“bos ku mengingin kan seorang yg cerdas sepertimu, tetapi dia juga menginginkan orang yang lincah seperti yuri. Sangat berat karena dia hanya boleh memilih satu dari kalian”

“aku pergi” yoona berdiri, dia mengenakan tas selempangnya lalu berjalan cepat keluar. Meninggalkan leeteuk yang tengah tersenyum menatap kepergiannya.

*****

Yuri diam. Dia dengan teliti mendengarkan suara apa saja yang ada di sekitarnya. Saat ini dia sedang duduk sendiri di sebuah gudang yg terlihat sangat mengerikan, mulutnya di sumpal oleh sebuah sapu tangan sehingga dia tidak bisa berteriak. Sedangkan kaki dan tangannya di ikat sangat keras pada kursi yang saat ini sedang dia duduki.

 

Sementara yoona, sedang mencari yuri di sekolah, dia bertanya pada setiap teman-teman yuri. Tetapi tidak ada yang tau yuri ada dimana. Yoona menepuk keningnya, menyadari sesuatu. Dia mengambil ponsel dari kantong celana selututnya. Dia mengotak-atik sebentar, lalu menyetop taxi dan pergi menuju gudang di mana yuri di sekap sambil sesekali melihat kearah GPS memastikan tidak ada pergerakan. Setelah sampai, yoona membayar taxi, lalu turun. Tanpa supir taxi tadi sadari yoona sudah mengambil pisau nya yang dia letakkan di kursi mobil di belakang. Yoona berlari masuk ke dalam gudang, dia mengendap-endap begitu sudah tiba di dalam gudang. Dia terus berjalan berusaha mencari dimana yuri berada. Dia menaiki tangga dan berjalan semakin masuk ke dalam gudang yang sudah sangat lama tidak terpakai itu. Ada sarang laba-laba dimana-mana, kayu yang dia injak pun sudah sangat tua, mungkin jika dia melompat sedikit maka kayu itu akan patah. Setelah sekitar 20menit berjalan sambil mengendap-endap yoona melihat yuri. dia menahan napasnya ketika melihat yuri berada di bawahnya. dengan kondisi yuri yang seperti itu dia rasanya ingin berlari dan melepaskan saudara nya itu, tetapi dia tidak boleh gegabah karena itu akan membahayakan nyawa mereka berdua. Jadi yoona lebih memilih mengintai dari lantai atas, bersembunyi pada sebuah kayu yg lumayan besar untuk menutupinya. Pisau yang sedari tadi dia pegang sudah basah oleh keringat dari tangannya.

Dia menahan napas ketika beberapa menit kemudian seorang pria datang, dia tidak terlalu tinggi, tetapi di tangannya terdapat sebuah pistol laras pendek. Pria itu memakai topi dan masker menutupi hamper seluruh wajahnya , sehingga yoona tidak bisa mengenali wajah orang itu. Pria itu berdiri sekitar 3 meter di depan yuri. Pistolnya dia arahkan tepat pada kepala yuri. Yuri menatap pada mata pria itu. Yang sepertinya sedang tersenyum. Pria itu menyadari ada yang aneh dengan yuri. Pria itu hanya bisa melihat sedikit rasa takut pada mata yuri. Bukankah itu menganggumkan, seorang gadis yang sedang di sekap bisa dengan berani menatap tepat pada mata orang yg menyekapnya , padahal dengan sekali tembak dia sudah tidak ada di dunia ini lagi. Pria itu memindahkan pistolnya ke tangan kiri, lalu berjalan tepat ke depan yuri, dia tersenyum lagi lalu melepaskan sapu tangan yang menutupi mulut yuri. Baru saja yuri merasa sedikit lega karena mulutnya tidak akan terlalu sakit lagi, pria itu menampar wajah yuri dengan tangan kanannya, membuat wajah yuri tersentak ke kanan. Yuri meringis dia menatap pada pria itu dengan penuh rasa benci, pria itu menamparnya lagi, dan lagi, dan lagi tapi yuri tidak menyerah, dia tidak membiarkan rasa sakit di pipi kirinya membuat dia mengeluarkan air mata. Untuk kesekian kalinya wajah yuri tersentak ke kanan, karena tamparan yang dia dapatkan. Yoona yang dari tadi memperhatikan saudara kembarnya di bawah menangis, tapi dia menahannya dan membekap mulutnya sendiri dengan tangannya. Dia tidak bisa melihat itu lebih lama lagi.

Pria tadi mengembalikan pistolnya ke posisi semula, ke tangan kanannya. Dia mundur sekitar 3 meter ke depan yuri lalu mengarahkan moncong pistolnya tepat pada kepala yuri, yuri sendiri pasrah. Dia menutup matanya dan menyerahkan semuanya pada takdir.

Doorrr…!!!! Satu tembakan melayang, pria tadi dengan pakaian serba hitam tersenyum lagi, melihat eskpresi pada wajah yuri. Menurutnya itu sangat lucu kalau bisa dia akan tertawa saat ini.

“Andwaeeeee!!!!” yoona berteriak dia berlari menuruni tangga. Sementara pria tadi tidak terlihat kaget sama sekali dengan kehadiran yoona, dia sudah tau kalau yoona juga ada disana. Yoona berlari menghampiri yuri, yuri membuka matanya menyadari bahwa ternyata dia belum mati. Hanya saja di pundak sebelah kanannya mengucur darah karena peluru yang tadi di tembakan. Ternyata peluru itu hanya menyerempet(?) pundak yuri saja. Tidak melukainya dengan parah, hanya saja terasa agak perih.

“yoona.. bagaimana kau bisa disini?” Tanya yuri, yoona tidak menjawab dia memeluk yuri erat walaupun yuri tidak bisa membalasnya karena masih terikat dengan kursi.

Yoona melepaskan pelukannya lalu berbalik menatap pria tadi, pria itu mengarahkan pistolnya pada yoona. “tusuk dia” ucap pria itu

“mwo?” yoona tak habis pikir dengan apa yang baru saja di katakan pria gila di depannya itu. “tusuk dia. Dengan pisau yang kau bawa” ulang pria itu, masih sambil mengarahkan pistolnya ke wajah yoona. “kau benar-benar berpikir aku akan melakukan itu kepada saudara kembarku?”

“kau harus. Atau aku akan menembaknya” pria itu mengganti target. Dia mengarahkan pistolnya kembali pada kepala yuri.

“andwae!!” teriak yoona. Pria itu menurunkan pistolnya “ kalau begitu lakukan. Tusuk dia”

Yoona menangis, dia membuka kain yang menutupi pisau nya lalu berjalan lebih dekat pada yuri.

“yoona-ya, apa yg kau lakukan? Yoona jangan!! Yoona!!” yuri berteriak panik

“mianhae” yoona menusuk perut yuri. Tusukannya tidak terlalu dalam karena tidak sampai setengah pisau yang masuk ke dalam perut yuri. Pria tadi bertepuk tangan sementara yuri berteriak sakit.

Pria itu berjalan mendekati yuri, sementara yoona mundur perlahan, pria itu memeriksa pisau yang menancap “apa ini?hanya segini” dia menggeleng lalu memegang gagang pisau yang masih menancap pada perut yuri lalu menekannya lebih dalam. Membuat yuri berteriak sangat kencang dan memilukan.

Bukkk..!!!! yoona memukul sangat keras pada punggung pria itu, sehingga dia tidak bisa menyeimbangkan dirinya dan terjatuh, yoona memukul sekali lagi dengan sangat keras, lalu pria itu menutup matanya, entah dia pingsan, pura-pura pingsan, atau mati yoona tidak perduli.

“mianhae yuri, tapi aku harus mengambil pisau ini untuk menyelamatkan mu” yoona menarik pisau yang menancap pada perut yuri dalam sekali cabut, dia mengeluarkan sapu tangan dari kantong celananya dan menutupi luka yuri dengan itu.tangan yoona sudah belepotan dengan darah, dia memegang pisau itu erat lalu walaupun sedikit gemetaran. Dia memotong tali yang mengikat yuri, lalu memapah yuri pergi bersamanya.yuri berjalan dengan susah payah, wajahnya sudah pucat karena banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya.

Yoona dan yuri berjalan pelan, berusaha untuk keluar dari gudang tekutuk itu, tetapi tanpa mereka sadari, mereka sama sekali tidak berjalan keluar gudang itu. Sebaliknya mereka malah berjalan semakin masuk ke dalam gudang, terbukti dengan udara yang semakin pengap dan suasana yg gelap.

Yuri lelah, dia menyuruh yoona untuk berhenti berjalan dan beristirahat. Yoona setuju lalu mendudukkan Yuri di sebuah lorong sempit, dia sedikit tertutupi oleh kayu yang ada di sampingnya. Yuri menyandarkan tubuhnya pada dinding gudang yang lembab. Baju dan celananya sudah terlihat sangat lusuh, begitu juga dengan yoona, hanya saja darah yang menyelimuti baju dan tubuh yoona tidak sebanyak yuri. Yuri merasakan kepalanya sangat sakit, seolah ada berates-ratus palu yang memukulnya, napasnya pun sudah mulai berat. Dia kesulitan bahkan hanya untuk mengambil udara. Sedangkan darah segar terus mengalir dari luka di pundaknya dan juga luka pisau yang ada di perutnya sementara sapu tangan yang dari tadi dia gunakan untuk menutupi luka itu sudah penuh dengan darah, sampai-sampai tidak terlihat lagi apa warna asli sapu tangan itu.

“yoona..” yuri memegang tangan kiri yoona dengan tangan kanannya. Dia meringis sebelum melanjutkan perkataannya.

“aku bermimpi.. mimpi itu.. kau meninggalkan ku yoona..”

“aniyo yuri, jangan ucapkan apa pun. Simpan saja tenagamu. Aku akan membawa kita berdua keluar dari sini” yoona mulai terisak, melihat keadaan saudara kembarnya itu.

“tidak yoona. Apa pun yang terjadi jangan pernah tinggalkan aku” air mata yoona mengalir semakin deras, dia menatap lekat pada wajah kesakitan saudaranya itu.

“yuri-ah.. seharusnya aku yang mengatakan itu.. kau yg tidak boleh pergi meninggalkan ku. yuri jangan pernah meninggalkan ku. kau harus selalu bersama ku arrasseo?” yoona menepuk wajah yuri pelan yang sudah mulai menutup matanya.

“aniyo yoona. Jangan pergi. Aku menyayangimu. Aku menyayangi mu sebagai saudara kembarku, dan Aku menyayangimu terlepas dari segala hal baik atau buruk yang pernah kau lakukan padaku” setelah mengucapkan kata yang cukup panjang itu, yuri perlahan menutup matanya. Yoona menjerit tangannya bergerak mengguncang tubuh yuri. Tetapi yuri sudah tidak punya tenaga lagi untuk membuka matanya.

“yuri aku juga menyayangimu, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Tetapi kau juga jangan meninggalkanku” yoona terisak

Doorrrrr!!!!

Suara tembakan terdengar, yuri kaget dia membuka sedikit matanya. Napasnya sesak, entah kenapa lukanya terasa semakin sakit dia tidak bisa menahannya lagi lalu dia benar-benar tak sadarkan diri.

******

 

 

Yuri membuka matanya perlahan. Cahaya matahari yang masuk membuat matanya sedikit silau. Tetapi beberapa detik kemudian dia sudah mulai terbiasa dengan cahaya, dan memperhatikan sekelilingnya. ruangan ini bernuansa putih dan Di sampingnya ada meja kecil yg di atasnya terdapat rangkaian bunga cantik. Dia melihat tangan kanan, terdapat infuse di sana. Pundaknya terasa perih, begitu juga perutnya. Sedangkan seluruh badannya terasa sakit, dan kaku.

Yuri berusaha mengingat-ingat, baru saja dia menutup matanya untuk mulai mengingat, seorang lelaki datang dengan senyuman bak malaikat. Dia memperkenalkan dirinya sebagai leeteuk pada yuri. Yuri tidak mengenalinya sama sekali.

“yoona?” Tanya yuri, sadar bahwa dia tidak melihat saudara kembarnya sama sekali.

“apa kau mau bertemu dengannya?” leeteuk semangat. Yuri hanya mengedipkan matanya sebagai jawaban bahwa dia sangat ingin bertemu yoona. Yah, semoga saja leeteuk mengerti, pikir yuri.

“Aku akan mengantarmu untuk bertemu dengannya setelah kau benar-benar sembuh.”

“kenapa dia tidak datang kesini?” Tanya yuri dengan suara yg sangat pelan, dia menatap lekat pada mata leeteuk. Leeteuk mengangkat bahunya

“dia tidak bisa. Dia terlalu lelah untuk melakukan itu. Makanya lebih baik kau cepat pulih maka kita akan mengunjunginya”. Mendadak berurutan kejadian yang dia dan yoona alami di gudang waktu itu terekam jelas di otaknya. Dia berhasil mengingat itu semua sekarang. Lalu Yuri menganggukkan kepalanya pelan.

“kalau begitu aku harus pergi, ada beberapa urusan. Aku akan datang lagi nanti”

******

4 bulan kemudian

Kondisi yuri sudah menjadi sangat baik. Bahkan sudah hamper seperti yuri yang semula, sebelum terluka di dalam gudang dulu. yuri tersenyum, ketika melihat leeteuk datang dengan menenteng sekeranjang buah. Saat ini yuri sangat dekat dengan leeteuk. Leeteuk yang melakukan semuanya untuknya ketika dia sendang sakit. Dia yang membayar tagihan rumah sakit yuri, dia yang membayar tagihan terapi untuk yuri, dia juga yang setiap hari datang dan menemani yuri mengobrol walaupun sebenarnya jadwalnya sangat sibuk.

“hai yuri.. bagaimana keadaan mu saat ini?” Tanya leeteuk lalu meletakkan keranjang buahnya diatas lemari kecil yang ada di samping tempat tidur yuri. Yuri tersenyum “ aku sudah jauh lebih baik. Aku sudah bisa pulang sekarang”

“jinjja? Bagus sekali. apa kau mau kita pulang sekarang?” yuri mengangguk sebagai jawaban. Yuri sekarang memang sudah di angkat sebagai salah satu keluarga leeteuk, leeteuk menyuruh yuri untuk tinggal bersamanya di rumahnya. Awalnya yuri menolak dan bertanya bagaimana dengan yoona. Tetapi leeteuk hanya tersenyum dan berkata jangan khawatir tentang yoona aku juga akan menyuruhnya untuk tinggal bersamaku.

Yuri berganti baju, lalu menyiapkan barangnya yang hanya sedikit, yang semuanya diberikan oleh leeteuk.

“apakah kau sudah benar-benar pulih sekarang?” Tanya leeteuk memastikan dengan nada khawatir.

“aku sudah sangat pulih. Aku bisa melakukan apa pun sekarang”

“arrasseo, kalau begitu kita pergi ke dalam mobil, lalu seperti janjiku. Aku akan mengantarmu menemui yoona” leeteuk menepuk pundak yuri pelan. Lalu berjalan bersama dengan yuri menuju mobil. Begitu sudah masuk ke dalam mobil, leeteuk menyetir mobilnya ke suatu tempat. Yuri menganga ketika sudah tiba di tempat yang leeteuk janjikan, dia turun dari mobil dengan jantung yang berdetak kencang.

“apa ini? kenapa kita di sini?”Tanya yuri dengan suara bergetar. Leeteuk menarik napasnya berat. Dia menggandeng yuri melewati beberapa nisan, hingga tiba di sebuah nisan dengan tulisan. Kwon Yoona di atasnya. Sesuatu yang sangat yuri takutkan terjadi, dia tidak menyangka kalau ternyata yoona sudah meninggal. Dia tidak menyangka sama sekali. kalau dari awal dia tau yoona sudah meninggal, dia pasti tidak akan mau mengikuti pengobatan dan terapi segala macam. Dia lebih baik mati bersama dengan yoona, dia tidak ingin melewati waktu tanpa yoona. Yoona adalah satu-satunya saudaranya yang tersisa, dan sekarang pun yoona harus di renggut darinya.

kenapa Tuhan sangat tak adil padaku?” pikir yuri, dia terduduk di samping makam kembarannya itu. Air matanya mulai mengalir, ini terasa sangat berat sampai-sampai dia menangis sangat banyak. Biasanya dia selalu bisa menahan apapun untuk tidak menangis, tapi saat ini dia benar-benar merasa sangat rapuh.

“yoona-ya.. aku sudah mengatakan berkali-kali padamu.. jangan pernah tinggalkan aku..aku sudah bilang jangan tinggalkan aku.. tapi kau malah meninggalkan aku” yuri mengucapkan nya sambil beberapa kali terisak

“kau tau yang aku miliki hanya dirimu, tetapi bahkan kau juga meninggalkan aku yoona. Yoona!!!! Sudah ku bilang jangan tinggalkan aku!! Kau mengingkari janjimu yoona!!!” yuri berteriak histeris, masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa yoona meninggalkan nya.

Sementara dari tadi leeteuk memandanginya. Dia tidak berusaha untuk menenangkan atau menghibur sama sekali. dia biarkan yuri mengungkapkan semua perasaannya sekarang. Ada rasa sedih yang mmerayap di hati leeteuk melihat yuri di depannya seperti ini.

 

Selalu seperti itu..

mimpi itu selalu di awali dengan perjalanan di sebuah hutan.

Kau membawa seekor kucing bersamamu. Kita berjalan bersama untuk mencari jalan keluar..

Tapi ketika kita pikir kita sudah berjalan keluar hutan itu,

sebaliknya kita malah masuk semakin dalam dan suasana menjadi semakin gelap.

Kucing yg kau bawa berubah semakin besar dan menyeramkan menjadi seekor singa.. Singa itu berlari mengejar kita, kau berlari meninggalkan ku, aku juga berlari, aku ingin mengejarmu tapi kau malah lari semakin jauh, aku tak tau arah dan singa itu mengejarku.. Tetapi aku melupakan sesuatu..

aku melupakan mimpi terakhir yang aku dapatkan..

Di mimpi itu singa yang mengejarku berbalik pergi. Dia mengganti targetnya..

Dan sekarang itu bukan aku! Itu dirimu! Dan kau meniggalkanku

Pada akhirnya kau juga yang meninggalkanku

 ***END***

 

Gimana ffnya? Jelek ya? Ancur ya? Aku tau kok . Mksih yg uda mau luangin waktu buat baca. Jan lupa kasih komen kalian yah.. kalo pada banyak yg suka dan penasaran sama ceritanya. Aku bakal bikini sequel. Tapi kalo gak ada yang mau tau juga gak papa..😀

 

 

 

15 Responses to “Dream, War & Tears”

  1. Whielf May 10, 2014 at 12:19 pm #

    Hiks ak nyesek bc.a gak nyangka mlh yoona yg bakal mati😦 seq.a please😀

    • christinaminhee May 11, 2014 at 5:54 am #

      iya nih.. aku juga ikut nyesek/? *eh
      sbnernya tdi pengen bkin yuri mati. tapi ga tega, dia kan bias ku yg pling kucintai sepenuh hati/?*gananya
      makasi yo untuk jejak yg telah km tnggalkannnn😀

  2. nabila tauhida May 10, 2014 at 6:27 pm #

    agak nggak ngerti sih,,
    tapi kerenn kok, daebakk
    di tunggu I’m Sorrynya
    Aurhor daebakk jjang fighting, keep writing

    • christinaminhee May 11, 2014 at 5:59 am #

      iihh kok ga ngerti sih.. ngertiin aja ya ya yaaaa..*maksa
      pokonya kamu harus mengerti, kalo prlu bca ber ulang2 smpe mengerti.. oke!!
      ngehehheheehe

      • nabila tauhida May 11, 2014 at 7:31 am #

        hahaha,, ntar aku cba ngertiin deh
        i’m sorry nya di tunggu

  3. kkabyulk May 12, 2014 at 12:26 pm #

    kenapa leeteuknya jadi baik diakhirnya
    bagus kok thor
    dari awalnya yang kyk biasa-biasa aja smpe yoona di bunuh keren pkkny

    • christinaminhee May 12, 2014 at 10:03 pm #

      Penasaran yaaaa~~~~?
      Nte aku bikin sequelnya deh… tpi kyanya bkal aku bkin berchapter. Tpi klo bs aku psti bkin cma 1/2shoot. Mksi yaa untuk pjiannya…🙂

  4. azizah YulHan May 17, 2014 at 6:18 pm #

    aaaaaaaaaaaaaaaaa…yeyeyyeye Author comebackkk!!!! #girang

    tapi knp gak comeback dengan I’m Sorry?? tuhh FF yang aku tunggu-tunggu///..

    ayolahh..jebal ne???? update ff I’m Sorry!!! aku tunggu

    • christinaminhee July 5, 2014 at 2:54 am #

      aku uda lanjutin ff im sorry koookk.. tp blom ku post krna aku ga tau mau bkin yuri sama siapaaaaa

  5. liliknisa May 20, 2014 at 5:07 pm #

    Ternyata ITU arti mimpi Yuri
    Saying ban get yoona mati

    • christinaminhee July 5, 2014 at 2:55 am #

      biar greget lah bkin yoona mati.. klo idup dua2nya kurang greget wkwkwk😀

  6. minyul generation June 11, 2014 at 11:57 am #

    Ap alasan boss a leeteuk bunuh yoona??
    Teros ap hubungan a sama topi yg d beliin yuri??
    Agag aneh sebenar a,, tapi bisa lah. Buat baca2 aj,, maaf ya aq komen a kek gini,, buat perbaikan kamu ntar d ff lain a,,
    Mianeyo

    • christinaminhee June 21, 2014 at 4:56 am #

      di ff ini belum aku jelasin semuanya. soalnya kan ini cuma oneshot. kalo misalnya aku langsung jelasin semuanya yang ada jadi berchapter, dan aku nggak punya cukup waktu buat bikin berchapter. topi nya yoona ga ada hubungan apa2. kan ceritanya itu barang terakhir yang yuri kasih ke yoona. gausah minta maap wkwkwk santai saja.. aku kan menerima komentar apa saja😀

  7. Yan Yan June 29, 2014 at 11:12 am #

    Ffnya bagus thor cm kependekan n msh byk teka-teki jd bikin bingung+penasaran akut,,,contohnya kyk siapa sosok si ‘Bos’ n leetuk itu siapa, alasan dy ngincar yuri-yoona, n knp mesti d bunuh salah satu bkn manfaatin 2.2nya aja ~ #kepo xD Lol
    D tunggu sekuelnya, hwaiting !

    • christinaminhee July 5, 2014 at 2:28 am #

      aku sudah menyiapkan sequel kok. kalo uda slsai psti ku post!!! thankseuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: